Oleh: Dhita Karuniawati )*

Pemerintah memastikan kebutuhan pangan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap aman di tengah situasi darurat dan potensi gempa susulan. Jaminan tersebut diperkuat dengan kesiapan cadangan beras dalam jumlah besar serta percepatan distribusi ke wilayah yang terdampak.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan bahwa masyarakat NTT tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan pangan. Pemerintah, melalui Badan Urusan Logistik (BULOG) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), terus bergerak memastikan kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi. Semua pihak terkait pangan tengah bergerak cepat menyalurkan bantuan. Dalam 1-2 hari, semua masyarakat di NTT akan menerima bantuan pangan.

Zulhas mengatakan bahwa stok pangan nasional dalam kondisi mencukupi, termasuk beras, telur, ayam, ikan, dan gula. Distribusi bantuan untuk wilayah yang dapat dijangkau ditargetkan berlangsung merata dalam satu hingga dua hari. Tantangan terbesar dalam kondisi bencana bukan semata-mata ketersediaan pangan, melainkan bagaimana bantuan tersebut dapat menjangkau lokasi yang aksesnya terganggu.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat persoalan pangan dari sisi jumlah stok, tetapi juga dari aspek distribusi. Dalam kondisi bencana, keterlambatan logistik dapat menjadi persoalan serius karena masyarakat kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar pada saat yang paling dibutuhkan.

Langkah konkret kemudian terlihat dari kesiapan BULOG. Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan bahwa Perum BULOG menyiapkan total cadangan beras hingga 93.782 ton untuk mendukung penanganan bencana di NTT sekaligus menjaga keberlanjutan program Bantuan Pangan Presiden.

Dari jumlah tersebut, sekitar 26.336 ton merupakan stok yang telah tersedia di wilayah NTT. Untuk memperkuat cadangan, BULOG menyiapkan tambahan 67.446 ton melalui mobilisasi nasional dari sejumlah wilayah, antara lain 3.000 ton dari Jakarta, 20.646 ton dari Jawa Timur, 8.850 ton dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta 35.250 ton dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kesiapan tersebut menjadi penting karena gempa berdampak pada tujuh kabupaten di NTT, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Berdasarkan data per 22 Agustus 2026, wilayah terdampak juga telah mengalami lebih dari 5.000 gempa susulan. Untuk mendukung distribusi, BULOG mengoperasikan 46 unit gudang di wilayah NTT dan siap memanfaatkan gudang di luar lokasi terdampak sebagai titik distribusi bantuan.

Ahmad Rizal mengatakan bahwa kebutuhan beras untuk sekitar 150.576 warga terdampak selama 14 hari masa tanggap darurat diperkirakan mencapai 1.890 ton. Namun, BULOG tidak berhenti pada perhitungan kebutuhan awal. Cadangan juga disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan masa tanggap darurat diperpanjang, dengan kebutuhan yang diproyeksikan mencapai sekitar 18.900 ton.

Selain kebutuhan bencana, pemerintah tetap menjaga keberlangsungan Bantuan Pangan Presiden. Pada periode Agustus hingga Oktober 2026, sebanyak 852.631 penerima manfaat di NTT dialokasikan masing-masing 10 kilogram beras setiap bulan. Total kebutuhan untuk program tersebut mencapai sekitar 25.578 ton. Dengan menggabungkan kebutuhan penanganan bencana dan bantuan pangan, kebutuhan beras diperkirakan mencapai 46.368 ton.

Dengan cadangan yang disiapkan mencapai 93.782 ton, masih terdapat ruang stok puluhan ribu ton setelah kebutuhan tersebut diperhitungkan. Ahmad Rizal menilai kondisi itu menunjukkan kapasitas BULOG cukup untuk menopang kebutuhan masyarakat NTT selama masa penanganan bencana sekaligus menjaga keberlanjutan bantuan pangan.

Bulog akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya. Koordinasi dilakukan untuk memastikan proses mobilisasi, penyimpanan, dan penyaluran beras berjalan efektif sesuai kebutuhan di lapangan.

Terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi masyarakat terdampak gempa di Manggarai, NTT.

Menurut Kepala Bapanas Amran, kebutuhan dasar untuk masyarakat terdampak bencana adalah pangan, terutama beras, dipastikan aman. Pemerintah bahkan memastikan cukup sampai setahun ke depan apabila dibutuhkan.

Adapun stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara nasional sangat mumpuni untuk penggelontoran bantuan bencana dan keadaan darurat. Per 21 Agustus 2026, total stol CBP masih di angka 5,17 juta ton, sehingga pemerintah siap membantu masyarakat melalui berbagai program.

Jaminan pangan tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan masyarakat dalam situasi bencana tidak berhenti pada evakuasi dan penyelamatan korban. Pemenuhan kebutuhan dasar, terutama pangan, merupakan bagian penting dari tanggung jawab negara dalam memastikan masyarakat dapat bertahan dan memasuki tahap pemulihan.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan bahwa besarnya cadangan benar-benar diikuti distribusi yang cepat, tepat sasaran, dan merata. Sebab, persoalan utama dalam situasi bencana bukan sekadar apakah pangan tersedia di gudang, melainkan apakah pangan tersebut sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BULOG, Bapanas, serta unsur penanganan bencana menjadi kunci. Ketersediaan stok yang kuat harus berjalan beriringan dengan kemampuan logistik di lapangan.

Bagi penyintas gempa NTT, kepastian pangan memberikan ruang untuk berkonsentrasi pada keselamatan, pemulihan keluarga, dan pembangunan kembali kehidupan mereka. Pemerintah yang memastikan kebutuhan dasar tetap tersedia pada saat masyarakat menghadapi bencana menunjukkan bahwa kehadiran negara bukan sekadar pernyataan, melainkan diwujudkan melalui kesiapan stok, mobilisasi sumber daya, dan percepatan distribusi bantuan.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia