Oleh: Surya Darma )*

Transformasi hilirisasi terus menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam memperkuat fondasi industri nasional. Kebijakan ini diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam melalui peningkatan kapasitas pengolahan di dalam negeri sehingga komoditas tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah. Pendekatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya investasi, pengembangan industri lanjutan, serta penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.

Perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa arah hilirisasi nasional semakin beragam. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi hilirisasi bauksit untuk pertama kalinya menjadi yang terbesar di Indonesia pada kuartal II-2026. Realisasi investasi komoditas tersebut mencapai Rp40,1 triliun atau meningkat sekitar 193 persen dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar Rp13,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa proyek-proyek hilirisasi mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Menurutnya, pembangunan industri berbasis sumber daya alam menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Rosan menilai proyek hilirisasi yang dikembangkan PT Vale Indonesia menjadi contoh bagaimana kolaborasi investasi dapat mendukung kepentingan nasional. Pengembangan industri tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kedaulatan pengelolaan sumber daya alam, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung agenda transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui pengembangan industri yang bernilai tambah.

Pengembangan kawasan industri berbasis hilirisasi juga dipandang sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem kendaraan listrik nasional. Rosan menjelaskan bahwa pembangunan kawasan industri akan memperkuat kemandirian sektor manufaktur sekaligus mempercepat terbentuknya rantai pasok yang lebih lengkap di dalam negeri.

Kawasan penghasil nikel seperti Sulawesi Tengah diperkirakan memperoleh dampak ekonomi yang lebih besar melalui bertambahnya kesempatan kerja, meningkatnya permintaan jasa pendukung, serta tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah di sekitar kawasan industri.

Penguatan ekosistem kendaraan listrik menjadi salah satu tujuan utama percepatan hilirisasi mineral. Kebutuhan bahan baku baterai yang terus meningkat mendorong pembangunan fasilitas pengolahan dengan teknologi yang semakin maju. Proses tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia dalam memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik dunia.

Kemajuan pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi milik PT Vale Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu indikator percepatan tersebut. Fasilitas yang merupakan bagian dari Indonesia Growth Project Morowali itu memiliki nilai investasi sekitar 2 miliar dolar AS dan telah memasuki tahapan penting setelah kedatangan komponen utama autoclave. Pembangunan tiga jalur produksi pada proyek tersebut ditargetkan mencapai tahap first mechanical completion pada akhir 2026.

Pengamat tambang dan energi, Ferdy Hasiman, menilai pembangunan fasilitas HPAL kini menjadi kebutuhan strategis bagi industri nikel. Menurutnya, perusahaan yang mampu mengembangkan teknologi pengolahan mineral akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang masih mengandalkan ekspor bahan mentah atau produk dengan tingkat pengolahan rendah.

Ferdy menjelaskan bahwa belanja modal perusahaan tambang saat ini banyak diarahkan untuk pembangunan fasilitas HPAL karena teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan ekosistem kendaraan listrik. Ia menilai langkah MIND ID melalui PT Vale Indonesia menunjukkan komitmen yang kuat dalam mempercepat pembangunan proyek hilirisasi berskala besar.

Dukungan pemerintah bersama Danantara Indonesia juga dinilai memperkuat keberlanjutan agenda hilirisasi nasional. Ferdy berpandangan bahwa konsistensi investasi pada proyek-proyek strategis menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing Indonesia di tengah meningkatnya persaingan global dalam industri baterai dan kendaraan listrik. Keberlanjutan pembangunan fasilitas pengolahan dinilai mampu menjaga momentum investasi sekaligus memperluas peluang pertumbuhan industri nasional.

Dampak ekonomi hilirisasi juga diperkirakan semakin luas karena aktivitas industri akan menciptakan permintaan terhadap berbagai sektor pendukung. Pertumbuhan jasa logistik, konstruksi, transportasi, perdagangan, hingga penyediaan barang dan jasa lokal akan berkembang seiring meningkatnya kegiatan produksi di kawasan industri. Kondisi tersebut memperkuat keterlibatan pelaku usaha domestik dalam rantai pasok nasional.

Keberhasilan transformasi hilirisasi tetap memerlukan penyelesaian berbagai proyek yang masih berjalan. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Tri Winarno, sebelumnya mengungkapkan masih terdapat tujuh proyek smelter bauksit yang progres pembangunannya berada di bawah 60 persen. Kondisi itu menunjukkan bahwa percepatan penyelesaian proyek masih menjadi pekerjaan penting untuk memperkuat kapasitas pengolahan mineral nasional.

Fasilitas yang masih dalam tahap pembangunan tersebar di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Proyek-proyek tersebut mencakup pembangunan smelter milik PT Dinamika Sejahtera Mandiri, PT Laman Mining, PT Kalbar Bumi Perkasa, PT Persada Pratama Cemerlang, PT Quality Sukses Sejahtera, PT Sumber Bumi Marau, serta PT Parenggean Makmur Sejahtera. Penyelesaian proyek-proyek itu akan memperbesar kapasitas pengolahan bauksit di dalam negeri sekaligus memperkuat rantai industri aluminium nasional.

Transformasi hilirisasi yang sedang berlangsung menunjukkan bahwa Indonesia semakin serius membangun industri berbasis nilai tambah. Pergeseran investasi dari dominasi satu komoditas menuju pengembangan berbagai sektor strategis menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem industri yang lebih kuat.

Dukungan investasi, pembangunan teknologi pengolahan, penguatan rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyek strategis diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus memperbesar manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah penghasil sumber daya alam.
*) Peneliti Ekonomi dan Pembangunan