Keamanan Pangan MBG Diperkuat lewat Monitoring Berlapis di Sekolah
JAKARTA Pemerintah terus memperkuat aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penerapan sistem monitoring berlapis di sekolahok. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap makanan yang diterima peserta didik tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi sesuai standar yang telah ditetapkan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan prasyarat utama dalam keberhasilan program MBG. Kepala BGN, Sudaryono, menyampaikan bahwa seluruh manfaat program, termasuk aspek edukasi dan pembentukan karakter siswa, hanya dapat tercapai apabila makanan yang disajikan telah terjamin keamanannya.
Pendidikan terhadap siswa akan terlaksana manakala syarat pertamanya adalah menu makanan yang dibagikan kepada siswa itu harus aman. Semua ini tidak akan ada artinya jika menu yang diberikan tidak aman, ujar Sudaryono.
Untuk itu, BGN melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem pengawasan produksi di 27.489 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Melalui sistem monitoring berbasis pencatatan, seluruh tahapan pengolahan makanan diawasi secara ketat, mulai dari persiapan bahan, proses memasak, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah. Selain itu, BGN juga menetapkan penanggung jawab atau person in charge (PIC) di setiap sekolah sebagai lapisan pengawasan akhir.
PIC melakukan pemeriksaan organoleptik dengan melihat, mencium, dan mencicipi makanan. Apabila tidak memenuhi standar, maka wajib tidak diberikan kepada siswa. Ini menjadi lapisan terakhir untuk memastikan keamanan pangan, jelasnya.
Penguatan pengawasan juga dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang menjalankan fungsi pengawasan dari hulu hingga hilir. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa keamanan pangan menjadi faktor kunci keberhasilan program MBG, terutama bagi kelompok rentan.
BPOM hadir untuk memastikan keamanan pangan dari proses produksi hingga diterima masyarakat. Prinsip kami jelas, bukan pangan kalau tidak aman, tegas Taruna Ikrar.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan berkelanjutan guna mencegah terulangnya kasus keracunan pangan. Pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh agar setiap makanan benar-benar memenuhi standar keamanan dan mutu, tambahnya.
Di tingkat daerah, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan turut memastikan kualitas bahan baku melalui pengawasan pangan segar asal tumbuhan (PSAT). Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kepulauan Yapen, Jefri Boy Manderi, mengatakan pengawasan dilakukan untuk menjamin bahan pangan bebas dari cemaran berbahaya.
Kami melakukan pengujian terhadap bahan pangan untuk memastikan tidak terdapat cemaran kimia sehingga layak dikonsumsi, ujarnya.
Melalui sinergi lintas sektor dan penerapan sistem pengawasan berlapis, pemerintah optimistis Program MBG dapat berjalan optimal, sekaligus mendukung terwujudnya generasi sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
(*/rls)


0 Comment