Rivka Mayangsari*)

Transformasi energi menjadi salah satu agenda strategis Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional. Salah satu langkah yang kini mendapat perhatian besar adalah pengembangan ekosistem hidrogen hijau sebagai fondasi baru bagi pembangunan ekonomi rendah karbon. Melalui kolaborasi pemerintah, BUMN, dan sektor industri, hidrogen hijau diproyeksikan menjadi motor penggerak transformasi energi sekaligus membuka peluang investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional.

Komitmen tersebut tercermin dari langkah PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) yang mulai membangun ekosistem hidrogen hijau secara terintegrasi. Perusahaan membidik pasar hidrogen rendah karbon untuk berbagai sektor strategis, mulai dari industri manufaktur, pembangkit listrik, hingga pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Langkah ini menunjukkan bahwa transisi energi di Indonesia tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan listrik, tetapi juga diarahkan untuk mendukung transformasi sektor industri secara menyeluruh.

Vice President Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Anita Puspita Sari, menjelaskan bahwa pengembangan hidrogen dan amonia menjadi bagian dari strategi jangka panjang PLN Group dalam membangun sistem energi rendah karbon. Selain terus mengembangkan energi terbarukan, pembangkit nuklir, teknologi carbon capture, utilization and storage (CCUS), sistem penyimpanan energi (energy storage), serta green energy super grid, hidrogen dipandang sebagai salah satu elemen penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Pemanfaatan hidrogen hijau di sektor industri diharapkan mampu meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global. Seiring meningkatnya tuntutan terhadap produk ramah lingkungan, penggunaan energi bersih akan menjadi nilai tambah yang semakin penting dalam perdagangan internasional. Dengan demikian, pengembangan hidrogen hijau bukan hanya menjadi kebijakan energi, tetapi juga strategi meningkatkan daya saing industri nasional.

Selain memenuhi kebutuhan industri, PLN EPI juga melihat peluang besar pada pengembangan electro-Sustainable Aviation Fuel (e-SAF). Teknologi ini mengombinasikan hidrogen hijau dengan karbon dioksida hasil penangkapan emisi untuk menghasilkan synthetic crude yang kemudian diolah menjadi bahan bakar penerbangan rendah karbon melalui konsep closed carbon loop. Inovasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memasuki rantai nilai industri aviasi berkelanjutan yang diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa dekade mendatang.

Menurut Anita Puspita Sari, kebutuhan terhadap e-SAF diprediksi meningkat seiring berkembangnya berbagai regulasi internasional yang mendorong penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan guna menekan emisi sektor aviasi. Kondisi tersebut menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk mengambil peran sebagai produsen energi bersih sekaligus memperluas pasar ekspor produk energi rendah karbon.

Pengembangan hidrogen hijau tidak hanya berorientasi pada aspek teknologi, tetapi juga mencakup pembangunan rantai pasok dan penciptaan pasar yang terintegrasi. PLN EPI terus memperkuat transformasi bisnis energi primer melalui pengembangan infrastruktur, peningkatan kapasitas produksi, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan industri hidrogen secara berkelanjutan.

Langkah PLN EPI sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen nasional sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih. Pemerintah memandang hidrogen sebagai salah satu solusi strategis untuk mendukung dekarbonisasi berbagai sektor ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang selama ini masih mendominasi konsumsi energi nasional.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa hingga saat ini Indonesia telah memiliki 93 inisiatif proyek hidrogen yang tersebar di berbagai daerah dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp32 triliun. Capaian tersebut menunjukkan meningkatnya minat berbagai pemangku kepentingan terhadap pengembangan energi hidrogen sebagai bagian dari transformasi energi nasional.

Seluruh proyek tersebut diarahkan untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan. Selain berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon, proyek-proyek tersebut juga diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan.

Besarnya nilai investasi yang telah masuk menunjukkan bahwa pengembangan hidrogen hijau memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Kehadiran berbagai proyek baru diperkirakan akan mendorong pertumbuhan industri pendukung, memperluas kesempatan kerja bagi tenaga profesional maupun tenaga teknis, serta meningkatkan kemampuan nasional dalam penguasaan teknologi energi masa depan.

Pengembangan ekosistem hidrogen hijau menjadi bukti bahwa transformasi energi dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Sinergi antara pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan pelaku riset diharapkan mampu mempercepat lahirnya industri energi baru yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Melalui investasi yang berkelanjutan, penguatan teknologi, serta pembangunan pasar yang terintegrasi, hidrogen hijau berpotensi menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi bersih, mandiri energi, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat global.

*) Pemerhati energi