Pemerintah Ajak Masyarakat Gunakan BBM Secara Bijak dan Tenang
Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam membeli bahan bakar minyak (BBM). Menurut Bahlil, untuk kendaraan pribadi, pengisian sekitar 50 liter per hari dinilai sudah mencukupi kebutuhan harian.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam agenda pengumuman kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi potensi krisis global yang disiarkan dari Seoul, Korea Selatan.
“Dalam pandangan kami sebagai mantan sopir angkot, wajar dan bijak itu kalau isi mobil satu hari 50 liter itu tangki sudah penuh satu hari. Kami akan mendorong ke sana,” ujar Bahlil.
Ketua Umum Partai Golkar itu menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendirian dalam menghadapi tantangan global. Karena itu, ia mengharapkan dukungan dan kerja sama seluruh masyarakat.
“Yang tidak terlalu penting-penting, kami mohon agar kita juga bisa lakukan dengan bijak,” kata Bahlil.
Pemerintah sendiri telah mengumumkan sejumlah kebijakan sebagai langkah mitigasi dan antisipasi terhadap dinamika global, salah satunya melalui pengendalian konsumsi BBM agar lebih terukur.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa stok BBM nasional saat ini berada dalam kondisi aman. Ia juga menegaskan bahwa perekonomian nasional tetap terjaga. Meski demikian, pemerintah menilai perlunya penyesuaian perilaku konsumsi agar masyarakat tetap tenang dan dapat beraktivitas secara produktif.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk menggunakan BBM secara bijak dan sesuai kebutuhan harian, agar distribusi energi tetap merata dan stabil di tengah berbagai tantangan global.
Untuk mendukung konsumsi BBM yang lebih tertib, pemerintah akan mengatur pembelian melalui barcode MyPertamina. Setiap kendaraan nantinya dibatasi hingga 50 liter per hari, sementara ketentuan ini tidak diberlakukan bagi truk dan angkutan umum.
“Untuk memastikan distribusi BBM, pemerintah akan melakukan pengaturan pembelian,” kata Airlangga.
Selain itu, dalam rangka memperkuat kemandirian energi dan meningkatkan efisiensi, pemerintah akan mulai menjalankan program B50, yaitu mandatori pencampuran 50 persen bahan bakar nabati (biodiesel) berbasis minyak kelapa sawit (CPO) dengan 50 persen solar. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan diyakini mampu menekan penggunaan BBM fosil hingga jutaan kiloliter (KL).
“Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending (pencampuran) dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta KL. Dalam 6 bulan juga ada penghematan subsidi dari biodiesel yang diperkirakan nilainya Rp 48 triliun,” kata Airlangga.


0 Comment