Tokoh Adat dan Agama Kecam Aksi Kekerasan OPM di Jila, Serukan Papua Damai
MIMIKA – Sejumlah tokoh adat dan tokoh agama di Papua mengecam keras aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap masyarakat sipil di Kampung Pasir Putih, Distrik Jila, Kabupaten Mimika. Peristiwa tersebut dinilai sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan serta mengancam upaya bersama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas keamanan di Tanah Papua.
Bimber Yigibalom, Kepala Suku Kampung Yokobak sekaligus Kepala Distrik Nogi, menegaskan bahwa kekerasan, teror, dan intimidasi terhadap masyarakat sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Ia menyampaikan keprihatinan dan kecaman atas dugaan tindakan kekerasan terhadap sembilan perempuan di wilayah tersebut.
“Kami mengecam segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat sipil. Papua membutuhkan kedamaian, bukan tindakan yang menimbulkan ketakutan dan penderitaan bagi masyarakat,” ujar Bimber.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak terlibat dalam aktivitas yang melanggar hukum dan menolak segala bentuk aksi kekerasan. Menurutnya, kerja sama antara masyarakat, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, serta aparat TNI-Polri merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
Seruan serupa disampaikan Marthinus Wonda, Kepala Suku Kampung Konikme sekaligus Ketua Jemaat Gereja Baptis Konikme. Menyikapi penyanderaan terhadap warga sipil, ia meminta kelompok bersenjata segera membebaskan para korban dan menghentikan tindakan kekerasan.
“Keselamatan warga harus menjadi prioritas. Setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui jalan damai, dengan menjunjung kasih, kemanusiaan, dan nilai-nilai keagamaan,” kata Marthinus.
Sementara itu, Teka Kogoya, Kepala Suku Kampung Palunggame dan Ketua Lembaga Masyarakat Adat Distrik Yiginua, menegaskan bahwa masyarakat Papua tidak boleh menjadi korban kepentingan dan konflik kekerasan. Ia menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat persatuan serta mendukung terciptanya keamanan di wilayah Papua.
“Kita harus bersama-sama menjaga kampung dan daerah kita. Kedamaian akan membuka ruang bagi masyarakat untuk bekerja, belajar, dan membangun masa depan yang lebih baik,” ujar Teka.
Kecaman para tokoh tersebut menunjukkan semakin kuatnya aspirasi masyarakat untuk menolak kekerasan dan mendukung penyelesaian persoalan melalui cara-cara damai. Dukungan terhadap pemerintah daerah dan aparat keamanan juga dipandang sebagai bagian dari upaya bersama melindungi masyarakat serta menjaga stabilitas keamanan.
Dengan persatuan dan kolaborasi seluruh elemen, Papua diharapkan terus bergerak menuju kehidupan yang lebih aman, damai, dan sejahtera.


0 Comment