JAKARTA – Lonjakan konsumsi masyarakat pada Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah pada 2026 menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pergerakan ekonomi di berbagai daerah di Indonesia. Peningkatan aktivitas belanja pada momentum keagamaan tersebut mampu memperbesar perputaran uang di masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun ini.

 

Kalangan dunia usaha menilai tradisi belanja masyarakat saat Lebaran selalu menjadi momentum penting yang memicu peningkatan transaksi di sektor perdagangan, pariwisata, transportasi, hingga kuliner. Kondisi ini membuat berbagai daerah ikut merasakan dampak positif dari meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

 

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) memproyeksikan konsumsi rumah tangga selama libur Lebaran dapat meningkat sekitar 10 hingga 15 persen dibandingkan periode biasa. Peningkatan ini diperkirakan akan memperbesar perputaran uang dan membantu menjaga laju ekonomi nasional pada awal tahun.

 

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengatakan bahwa momentum Lebaran secara historis selalu memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama.

 

“Perputaran uang selama perayaan dan libur Idul Fitri 1447 H dengan konsumsi rumah tangga yang melonjak rata-rata 10% hingga 15% menjadi momentum untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 yang ditargetkan sebesar 5,4% sampai 5,5%,” ujar Sarman.

 

Ia menjelaskan, optimisme tersebut juga dipengaruhi oleh sejumlah momentum konsumsi yang telah terjadi sejak awal tahun, seperti libur Natal 2025, Tahun Baru 2026, hingga perayaan Tahun Baru Imlek pada Februari lalu.

 

“Maka kami sangat optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 dapat mencapai target,” tambahnya.

 

Sarman menegaskan pemerintah perlu memastikan distribusi bahan bakar minyak dan gas berjalan lancar agar masyarakat tetap percaya diri dalam melakukan aktivitas ekonomi.

 

“Yang paling penting pemerintah dapat menjaga psikologi masyarakat dengan memberikan jaminan dan memastikan bahwa ketersediaan BBM dan gas selalu terpenuhi selama dan sesudah Lebaran 2026, sehingga masyarakat tidak ragu membelanjakan uangnya di daerah masing-masing,” katanya.

 

Selain itu, ia juga menilai dinamika geopolitik global, termasuk konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, berpotensi memengaruhi sentimen ekonomi karena dapat berdampak pada rantai pasok energi dunia.

 

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya memaksimalkan momentum belanja masyarakat melalui program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 yang berlangsung pada 6 hingga 30 Maret 2026.

 

Program tersebut digelar di lebih dari 400 pusat perbelanjaan serta sekitar 80.000 toko di seluruh Indonesia guna mendorong transaksi domestik saat Lebaran.

 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah mengapresiasi konsistensi pelaksanaan program tersebut yang dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat.

 

“Program ini menargetkan transaksi sekitar Rp53,38 triliun atau meningkat sekitar 20% dibandingkan tahun lalu,” ujar Airlangga.

 

Melalui kombinasi momentum konsumsi musiman dan program stimulus belanja domestik tersebut, pemerintah memastikan aktivitas ekonomi pada awal tahun dapat tetap terjaga dan memberi dampak positif bagi perekonomian di berbagai daerah.